Menulis buku memang bukan perkara gampang. Tidak segampang bikin mie goreng yang hanya perlu merebus air, tunggu mendidih, masukkan mie, aduk-aduk, tunggu sebentar. Sembari itu siapkan piring, buka bumbu-bumbunya, taruh ke piring. Ketika mie sudah cukup matang, tiriskan, tuang di piring, aduk-aduk dengan bumbu. Eh, lupa, biar tambah enak bikin telur ceplok!

Simple.

Mudah.

Enak.

Itulah sebabnya mie goreng laku keras. Padahal bikinnya tidak pakai proses goreng menggoreng sama sekali. Seandainya.. menulis buku bisa semudah itu..

Saya lagi berandai-andai seandainya bikin mie goreng tak semudah itu. Dengan tag line promosinya: “Membantu Anda Lebih Mandiri”, mie ini disajikan dengan kemasan yang lebih besar. Begitu dibuka isinya: 1.Tepung terigu sekepel 2.Alat sederhana pencetak mie 3.Bumbu mentah (frozen) seperti bawang merah, merica, garam, dan kawan-kawannya.

Petunjuk penggunaan: berilah tepung ini air secukupnya. Kemudian remas-remaslah sehingga ia mudah dibentuk. Setelah itu gunakan alat pencetak mie  dan cetaklah mienya, dan seterusnya…

Jika jaman itu sudah terjadi, bisa jadi, menulis buku lebih mudah dari bikin mie goreng di hari ini.

Meski menulis buku saat ini tak semudah bikin mie, tak berarti sulit juga – banyak orang yang sudah berhasil menulis buku. Ada yang baru satu. Ada yang lebih dari itu. Tere Liye misalnya, menurut Wikipedia, sudah 38 novel laris yang dihasilkannya sejak menulis tahun 2005.

Ada 3 tips menulis menurut Tere Liye: 1.Jadikan menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan dan hobby 2.Jadikan kejadian sehari-hari yang kita alami dan disekitar kita menjadi ide-ide dalam menulis. 3.Just DO IT Now..!

Tulis menulis bukan perkara biasa. Ada sosok Mohammad Hatta disana. Proklamator yang satu ini tak bisa dilepaskan dari buku. Ada anekdot yang mengatakan istri pertama Mohammad Hatta adalah buku, istri keduanya adalah buku, dan istri ketiganya barulah Rahmi Rahim. Ia baru menikah pada usia 43 tahun karena ia berjanji tidak akan beristri sebelum Indonesia merdeka.

  Uniknya, peristiwa pernikahannya pun tak luput dari buku. Mas kawin Hatta untuk Rahmi juga buku. Alam Pikiran Yunani, sebuah buku tentang filsafat yang ia tulis sendiri. Awalnya ibunda Hatta tak setuju dengan maskawin itu, tapi Hatta bersikukuh buku yang ia kerjakan sendiri itu lebih berharga ketimbang emas, uang, atau bentuk hadiah pernikahan lainnya.  

Kecintaan Hatta terhadap buku tampak sejak kecil. Uang sakunya sebesar satu gobang (25 sen) disimpan untuk membeli buku. Saat menjadi mahasiswa di Amsterdam, kamar Hatta penuh sesak dengan buku. Bahkan, setelah berkeluarga pun, semua tabungannya dibelanjakan untuk buku (Seri Buku Saku Tempo: Bapak Bangsa-Hatta, 2017).  Menurut Sri Edi Swasono, profesor ekonomi Universitas Indonesia yang juga merupakan menantu Hatta, sedikitnya hingga tahun 1972 mertuanya telah menulis 42 buah buku dan itu belum termasuk tulisan-tulisan lainnya yang tersebar dalam surat kabar, brosur maupun majalah.

Hatta terbiasa menulis di dalam penjara. Dengan 16 peti buku yang ia bawa-bawa ke lokasi pengasingan ataupun pembuangan, Hatta tetap bisa membaca dan menulis banyak hal. Bersama buku ia merasa jiwanya bebas meski raganya berada di dalam penjara (kumparan).

Serius nanya: Seberapa sibuk dirimu hingga tak ada waktu menulis buku?

Satu kalimat sehari? Ada kan?

Oleh: Iwan Pramana. Artikel dimuat di buku “Tulislah.. Sebelum Idemu Menjadi Debu, Insan Mandiri Cendekia, 2019.” Gambar: unsplash