Tris Surya

Lahir pada 07 Mei 1997 di kaki gunung Sindoro Sumbing. Menjadi seorang penulis bukanlah cita-citanya namun takdir sepertinya mengantar ia menuju  ke sana.

Tris  menyukai sastra  berawal dari membaca novel-novel roman sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Hingga berlanjut menempuh pendidikan di perguruan tinggi ia semakin menyukai karya sastra.

Sebelum akhirnya Tris menulis, ia dulu aktif dalam  kegiatan kebudayaan. Menjadi pengurus aktif dalam divisi Pertunjukan Seni dan Event Organizer di sebuah organisasi yang membawahi pementasan rumpun musik etnik, teater, angklung dan tari. Mengisi  undangan pementasan beberapa event di Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, Dies Natalis, Semarak Hardiknas, Puspa Ragam Budaya Nusantara, Music Colaboration, Jogja Nasional Museum, Balai Budaya Sinduharjo, dan Tasneem Convension Hotel.

Dari sinilah awal ia menulis, membuat sebuah puisi untuk dubbing sebuah film dokumenter Dalam Tanya yang dipersembahkan dalam acara Ambal Warsa. Di sela-sela kegiatan organisasi dan kuliah, ia kemudian belajar menulis dengan memperbanyak membaca dan mengikuti workshop penulisan karya ilmiah ataupun seminar sastra. Beberapa puisi karyanya pernah  terbit, dan menjadi penulis terpilih dalam lomba cipta puisi nasional. Hujan Kenangan (Bandung:2017), Diary Kecilku (Jakarta:2017), Cinta dalam Diam (2017), dan Kenangan (Kebumen:2019). Karena menulis sebuah monolog, ia juga pernah menjadi asisten sutradara bersama salah seorang sutradara teater di Yogyakarta. Dalam membuat sebuah pementasan kolosal Selasa Kliwon  di Fakultas Bahasa dan Seni UNY. Meskipun sebentar ia juga pernah terjun ke dunia jurnalistik, menjadi seorang reporter dan penulis berita di web lembaga pers mahasiswa.

Selain dalam bidang kesusastraan Tris juga menyukai dunia design grafis atau multimedia. Berkat belajarnya di level dasar mengoperasikan aplikasi editing Adobe Premiere, U-Lead, Adobe Ilustrator, Adobe Photoshop Lightroom, CorelDraw, dan Vegas. Ia  pernah bekerja di sebuah badan usaha yang bergerak di bidang sektor perumahan dan outbound menjadi free lance desainer grafis, dan aktif dalam berbagai kegiatan kepanitiaan di kampusnya sebagai tim desainer. Oktober 2020 lalu,  Tris diberi kesempatan bisa kembali menulis. Masuk dalam komunitas menulis SIMD (Sebelum Idemu Menjadi Debu). Ia sangat bersyukur mempunyai teman-teman yang sangat luar biasa,  mereka menjadi semangat barunya untuk terus tumbuh dalam belajar. Ia menulis supaya bisa berbagi pada orang lain dari setiap sepenggal cerita hidupnya agar esok, lusa, atau nanti buah pikirannya bisa menjadi sesuatu yang berarti. Akun instagramnya @tris_surya.

 

Quotes

“Jangan takut untuk menulis, sejelek apapun tulisanmu akan sampai pada pembaca yang tepat.”

 (Iwan Pramana)

{

“Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.”

Pramoedya Ananta Toer

MASTERPIECE

Hasil Karya

Berikut buku-buku hasil karya Tris Surya :

Hubungi Kami

14 + 6 =